Mengenal Bentuk Photo Story
Posted by matanesianet in FEATURED ARTICLES, KNOWLEDGE on 12 6th, 2009 | no responses
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 1.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

….Jika fotografer mulai berkata: “Sebenarnya ini cerita yang amat bagus, tapi untuk apa memotretnya, karena tak satupun media akan menerbitkannya, maka sebenarnya dia telah kalah sebelum perang. Fotografi yang bagus bukanlah kesia-siaan. Lagipula, seorang fotografer perlu keluar membuat cerita untuk meningkatkan kinerjanya.

(Colin Jacobson, founder of “reportage”, Senior Tutor of The Baltic Seminar Series)

Dalam workshop di Fakultas Ilmu Komunikasi UPN Veteran Surabaya, Kamis (7/8), Matanesia Commnunity mencoba mereview kembali ungkapan Jacobson di atas. Banyak cerita menarik di sekitar kita, namun masih sedikit fotografer yang mencoba membangun kembali cerita itu dalam gambar. Fokus diskusi kali ini adalah pengenalan bentuk-bentuk foto story.

Dalam konteks umum, sering orang menganggap cerita yang terdiri dari beberapa foto adalah foto esai, meski sebenarnya esai sendiri adalah salah satu bagian dari foto story. Sedangkan dua bentuk story lainnya adalah documentary dan narative.“Masih banyak media yang belum memakai standar pendekatan foto story, sehingga yang sering muncul adalah foto kompilasi yang dianggap sebagai foto esai”, tutur Mamuk Ismuntoro dari Matanesia Community.

Esai foto pada hakikatnya adalah sebuah cerita dengan sudut pandang tertentu. Lebih merupakan sebuah pernyataan-rangkaian argumen daripada suatu kisah atau tuturan. Esai foto juga menyampaikan sudut pandang yang jernih dan langsung serta mencoba untuk menganalisa. Jadi esai foto lebih dari sekedar sebuah kompilasi dokumenter.

Boby Noviarto, salah satu pembicara dari Matanesia Community menjawab pertanyaan tentang bagaimana membedakan foto dokumenter dengan esai. “Sebenarnya ciri dari pendekatan foto dokumenter,narative maupun esai bisa dilihat dari konten fotonya maupun elemen visual yang dikandungnya. Misal, jika konten foto mengandung pandangan personal pemotret, maka bisa dipastikan karya tersebut menggunakan pendekatan esai”, imbuh alumni workshop Panna Institute-World Press Photo ini.

Dalam diskusi singkat sekitar 2 jam, peserta mendapat masukan baru mengenai bentuk foto story. Meski proses praktek dan terus menggali cerita lewat foto lebih penting dari sekedar diskusi.
Matanesia Community telah memberikan beberapa workshop fotojurnalistik di beberapa kampus di Jawa Timur. Sebagai bagian dari program pendidikan dan pelatihan fotojurnalistik Matanesia Community juga berusaha memperkenalkan fotojurnalistik bagi semua kalangan.



Leave a Reply